top of page
WhatsApp Image 2023-01-09 at 22.43.09 (1).jpeg

KARYA BUDAYA/CB

Patung Palindo

Bagi masyarakat yang kini bermukim di lembah-lembah Lore Lindu, meyakini patung-patung megalit merupakan perwujudan leluhur masyarakat pelaku budaya yang lebih dulu bermukim di lembah tersebut. Bukan pula hal yang aneh, ketika beberapa patung yang akan kita jumpai memiliki nama sebagai identitasnya, diantaranya adalah patung megalit Tadulako di Lembah Behoa yang dimaknai sebagai sosok patung yang melambangkan tokoh pemimpin, kemudian patung megalit Palindo situs Padang Sepe di Lembah Bada yang dimaknai sebagai sosok jenaka dan senantiasa tersenyum.

Screen Shot 2023-01-15 at 11.44.07 AM.png

Ritus Balia Tampilangi, Suku Kaili, Palu

Masyarakat Kaili yang dilakukan turun temurun dalam bentuk sebuah Upacara. Balia dipercaya telah ada sejak zaman nenek moyang yang menjadi tradisi turun temurun berkembang menjadi budaya dan adat istiadat bagi masyarakat suku Kaili. Penamaan Balia sendiri tidak lepas dari literatur bahasa Kaili, kata Balia Tampilangi terdiri empat suku kata, dua kata pertama yaitu “Bali” artinya tentang/lawan dan “ia” yang artinya dia, jadi Balia maksudnya adalah melawan setan yang membawa penyakit dalam tubuh manusia. Pengertian lain juga menyebutkan bahwa “bali” diartikan sebagai kata ubah atau lawan, dan “ia” yang diartikan sebagai dia. Sedangkan kata “Tampilangi” juga terdiri dari dua suku kata yaitu “Tampi” yang artinya Tombak, dan “Langi” yang artinya langit atau kekuasaan. Balia Tampilangi diartikan sebagai pasukan Tombak sakti dari langit, yang siap melawan atau melindungi. Sederhananya, Balia diartikan merubah seseorang yang sakit menjadi sembuh, melawan roh jahat yang hinggap membawa penyakit ke tubuh pasien. Secara religius, Balia Tampilangi merupakan ritual kepercayaan lama suku Kaili yang bernilai sakral. Kepercayaan ini bisa dibilang dulunya merupakan pemujaan terhadap dewa (seuatu yang memiliki kekuatan gaib) yang dalam bahasa Kaili disebut karampua/pue dan juga roh leluhur (nenek moyang yang biasa disebut anitu ataupun viata.. Dalam penelitian penulis menguraikan sejarah masyarakat Kaili dan juga Kota Palu sebagai tempat tinggal mayoritas masyarakat Kaili beserta sejarah-sejarahnya di zaman dulu. Selain itu juga penulis menggambarkan sejarah perkembangan Agama Islam, Kristen dan Hindu. Untuk mempermudah penelitian penulis menggunakan pendekatan antropologis, historis dan fenomenologis yang coba melihat masyarakat, sejarahnya serta gejala-gejala keagamaan didalamnya. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa Upacara Balia Tampilangi yang memiliki banyak spektrum dimensi dan juga makna-makna yang dikandungnya, baik di dalam peralatan dan perlengkapannya ataupun di dalam prosesi Ritualnya. Selain sebagai media pengobatan adat, Balia juga dimaknai sebagai bentuk silaturahmi antara alam dunia dan alam gaib yang dihuni oleh roh-roh nenek moyang bagi masyarakat Kaili. Roh-roh nenek moyang (leluhur) ini mempunyai kekuatan-kekuatan gaib yang dapat menolong keturunan-keturunannya sehingga harus dilakukan ritual sebagai bentuk penghormatan, agar diberikan keberkahan dan kekuatan Tuhan melalui perantara mereka. 
Sumber: https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/57284, Skripsi, Moh. Fauzan Chair, 28-Jun-2021.

Sumber Foto, Herman Wahid, S.Sos (Dinas Kebudayaan Kota Palu)
 

WhatsApp Image 2023-01-09 at 22.43.11 (1).jpeg
WhatsApp Image 2023-01-09 at 22.43.10.jpeg

© Tim Media BPK 18 Palu Productions by Wix

  • Whatsapp
  • Youtube
  • Facebook
  • Instagram
bottom of page